<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>The Blings Of My Life</title>
	<atom:link href="http://jeunglala.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jeunglala.com</link>
	<description>another part of me that you should know better</description>
	<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 06:09:22 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Going Wordpress</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/going-wordpress/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/going-wordpress/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 06:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3378</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, saya sempat bercakap-cakap gila dengan seorang kawan via yahoo messenger. Obrolan sinting yang nggak jauh dari blog, dotcom, dan apa yang terjadi kalau kita bakalan pergi suatu saat nanti. Iya, pergi yang artinya no longer exist in the world a.k.a mati.
Cukup sinting, memang, karena ngapaaiiiinn juga ngomongin soal mati-matian hari begini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa bulan yang lalu, saya sempat bercakap-cakap gila dengan seorang kawan via yahoo messenger. Obrolan sinting yang nggak jauh dari blog, dotcom, dan apa yang terjadi kalau kita bakalan <em>pergi</em> suatu saat nanti. Iya, pergi yang artinya <em>no longer exist in the world </em>a.k.a mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup sinting, memang, karena ngapaaiiiinn juga ngomongin soal mati-matian hari begini. Cuman, yaa&#8230; kadang, emang perlu bicara hal-hal yang kita takutkan daripada harus menghindarinya terus menerus, kan? <em>Facing our biggest fear could be the only way to be brave.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan itulah yang kami lakukan malam itu. <em>Talking about death</em> dan hal-hal yang berhubungan dengannya&#8230; <em>ya, dengan becandaan pastinya</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu.. kami bicara soal:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;What if one day we die? Ntar yang ngurusin blog kita sapa, dong?&#8221;<span id="more-3378"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ya. Untuk dicatat, saya dan dia memang memiliki situs blog dengan ujung dotcom dan dotnet.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bilang, &#8220;Kalo situs gratisan sih enak, La&#8230; Biar kata ntar kita mati juga, tetep eksis tuh blognya. Lah, kalo yang dotcom dan dotnet macam kita gini, siapa yang ngurusin coba? Siapa yang bakal dengan rutin ngebayarin iuran tahunan? Nge-<em>back up</em> data?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terkekeh.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita musti buat ahli waris, Mas,&#8221; kata saya. &#8220;Supaya nanti kalau udah mati beneran, paling nggak tulisan kita tetap eksis&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekalipun kami berdua akhirnya tertawa geli malam itu, saya kemudian berpikir, &#8220;Ahli waris untuk ngebayarin blog? Aje gile!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya nggak akan mungkin ngerepotin orang lain untuk membayar iuran tiap tahunnya, hanya supaya orang lain tetap bisa bernostalgia dengan membaca tulisan-tulisan lama saya. Saya nggak mau juga tulisan saya kemudian hilang tanpa dokumentasi, kelak, kalau saya sudah meninggalkan dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keegoisan saya (ya, <em>there I said it</em>), membuat saya kemudian berpikir: &#8220;Daripada saya pusing-pusing mikirin daftar ahli waris, kenapa saya nggak <em>going backward </em>aja, menulis di situs gratisan, seperti tahun kemarin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berbulan-bulan saya memikirkan hal yang nggak penting ini, sampai akhirnya semalam tadi, saya memutuskan untuk benar-benar <em>kembali</em>. Menulis lagi di situs gratisan yang artinya saya tidak perlu merepotkan siapapun juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, teman-temanku tersayang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai hari ini, saya akan menulis di <a href="http://jeunglala.wordpress.com">http://jeunglala.wordpress.com</a> saja. Tenang, santai, dan nggak perlu membebani siapapun kecuali saya&#8230; <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Terimakasih udah main-main ke jeunglala.com yang ternyata usianya muda banget&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Terimakasih buat<a href="http://ria.choosen.net"> Ria</a>, yang udah repot-repot bantuin saya bikin situs ini, bulan Maret kemarin. Yang udah ngasih themes dan segala macemnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Terimakasih buat <a href="http://imelda.coutrier.com">Imelda Coutrier</a>, yang sempat mengotak-atik themes juga karena saya memang orang yang sangat pembosan&#8230; <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu, ini mungkin <em>stupid and ridiculous decision</em>&#8230; Tapi, yaa&#8230; untuk saat ini, saya tahu, ini yang membuat senyum saya terkembang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan main-main ke rumah saya yang lama&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>My house is maybe changed..<br />
<span style="font-style: normal;">Tapi tidak dengan nyawa yang tinggal di sana.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>I&#8217;ll see you there</em>!</p>
<p style="text-align: center;"><em>**</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em>Kantor, Rabu, 21 Oktober 2009, 1:07 Siang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/going-wordpress/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bad, Bad Boy</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/bad-bad-boy/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/bad-bad-boy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:55:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[It's me... today]]></category>

		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<category><![CDATA[Gerard Butler]]></category>

		<category><![CDATA[Ugly Truth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3374</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama nggak &#8216;ngebioskop&#8217;, akhirnya siang tadi saya terdampar di Studio XXI, Tunjungan Plaza, dengan seorang kawan baik saya, Jazili. Ada beberapa pilihan film yang sempat membuat saya bingung *ya, yang bingung memang cuman saya, karena Jaz bener-bener ngelimpahin semua tanggung jawabnya ke saya. Dasar semprul!*  
Pertama, Surrogates. Filmnya Bruce Willis. Ya, tau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah sekian lama nggak &#8216;ngebioskop&#8217;, akhirnya siang tadi saya terdampar di Studio XXI, Tunjungan Plaza, dengan seorang kawan baik saya, Jazili. Ada beberapa pilihan film yang sempat membuat saya bingung *ya, yang bingung memang cuman saya, karena Jaz bener-bener ngelimpahin semua tanggung jawabnya ke saya. Dasar semprul!* <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-3374"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, Surrogates. Filmnya Bruce Willis. Ya, tau dong, kualitas Bruce Willis gimana? Yang pasti bukan film sembarangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ada, Perjaka Terakhir. Hiyah! Jujur, saya memang pecinta film Indonesia, tapi entah kenapa, film ini belum bikin saya terkaing-kaing kepengen tau isi ceritanya. Gomenasai!</p>
<p style="text-align: justify;">The Grudge 3. AMIT-AMIT! Pilem setan begini jelas dicoret dari kategori. Next!</p>
<p style="text-align: justify;">The Ugly Truth, sebuah <em>chic movie</em> yang kata temen-temen saya, &#8220;Wajib tonton! Ini tentang laki sama perempuan. <em>Real </em>banget. Lucu banget!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung Jaz memang menyerahkan nasibnya ke saya, ya udah, pilihan akhirnya jatuh pada film Ugly Truth, yang ternyata&#8230; <em>boy oh boy, it&#8217;s so hilarious</em>! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tapi&#8230;.weiiiiittttsss. Nanti dulu. Saya nggak bakal meresensi filmnya, me-<em>review</em> ceritanya, dan seterusnya. Saya cuman mau ngasih tau, <em>side effect</em> setelah nonton film ini adalah saya teringat kembali dengan kecanduan saya pada <em>bad, bad boys</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Yap. Pada cowok-cowok yang setipe banget dengan Mike, tokoh di film ini yang diperankan oleh Gerard Butler, cowok <em>super yummy</em>! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_3375" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/gerard-butler.jpg"><img class="size-medium wp-image-3375" title="gerard-butler" src="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/gerard-butler-300x199.jpg" alt="Gerard Butler yang super yummy!" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Gerard Butler yang super yummy!</p></div>
<p style="text-align: justify;">Saya memang sukaaaaaaa sekali dengan cowok berpenampilan seperti Gerard Butler. <em>Oww&#8230; </em>bukan soal bule-nya atau gimana, tapi cowok-cowok dengan penampilan yang jauh dari metroseksual, yang bisa terlihat <em>soooo delicious with jeans and t-shirt</em>, yang membiarkan jenggotnya tumbuh tidak rapih, yang slenge&#8217;an dan keliatan apa adanya. Nggak nek0-neko dan cenderung cuek, <em>that&#8217;s the kind of guy that I adore soooo much</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuman ya itu tadi, biarpun saya sukkkaaaaaa sekali dengan cowok-cowok seperti Gerard Butler, yang keliatan <em>bad bad boy</em> tapi aslinya memiliki hati seperti lagu-lagunya Pance Pondaag, hanya satu dari sekian banyak *tsah! Gayamu, La! hehe* pacar-pacar saya yang <em>bad bad boy</em>. Sisanya? Rapih dan kalem! Lah, kok malah melenceng jauh dari keinginan ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Meneketehe! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tapi seperti yang dibilang seorang kawan saya, &#8220;<em>We&#8217;re dating the bad boys, but finally, we&#8217;ll take a good man home</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah lelaki dengan penampilan yang <em>bad bad boy</em> bukanlah lelaki yang <em>good good boy</em>? Maksud saya, <em>it was only the skin</em>, kalau masalah gimana lelaki itu menjadi seorang suami yang baik, saya yakin itu bukan dilihat dari gimana cara dia berpakaian atau gaya ngomongnya yang ceplas-ceplos, bahkan terlihat dari seringnya dia malas cukur jenggot kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm, tapi, tapi, kenapa ya, saya kok kesannya membela diri banget?</p>
<p style="text-align: justify;">Haha, tentu saja tidak lain tidak bukan karena saya merasa kalau Gerard Butler mirip banget sama pacar saya *gubrak! pacar yang manaaaaa lageeeee&#8230;. hihihihi*</p>
<p style="text-align: justify;">Badannya yang tinggi gedhe&#8230; <em>check. </em>Sama.<br />
Gayanya yang cuek dan <em>cool&#8230;</em> <em>check. </em>Banget.<br />
Jenggotnya, jenggotnya&#8230;. <em>check</em>. Podho plek ketiplek.<br />
Dan hatinya yang lembuuutttt banget kayak lagu-nya Rinto Harahap&#8230;. <em>check, check, check. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Nah, saya nggak mau, dong, kalau si dia yang saya anggap mirip dengan Mike di Ugly Truth bukanlah lelaki yang <em>I won&#8217;t take home to</em>&#8230;. Lha ini, sekarang saya malah ngebet banget bawa dia pulang ke rumah buat ngurus surat di KUA! Wkekekeke&#8230; *kayaknya dia bakal semaput kalau baca tulisan saya ini* <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, jadi..</p>
<p style="text-align: justify;">Inti dari tulisan ini apa, dong, La?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;emang harus ada ya? <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Karena jujur, intinya cuman satu dan sangat dangkaaaaallll sekali, yaitu&#8230; ummm&#8230;. saya kangen sama pacar saya! Haha!</p>
<p style="text-align: justify;">Gara-gara nonton film Ugly Truth, yang dengan khilafnya saya menganggap kalau Gerard Butler mirip banget dengan pacar, akhirnya sepanjang durasi saya terdistraksi mulu dengan rasa kangen saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kamu tau kan, kalau saya lagi kangen?</p>
<p style="text-align: justify;">Gatel pengen nulis!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kamu tau kan, kalau saya gatel pengen nulis?</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisannya ngaco! Haha.</p>
<p style="text-align: justify;">Yaaa.. <em>again, </em>saya memakai hak veto saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>This is my blog, Honey&#8230; </em>terserah saya, yaaaaa, mau nulis apaan&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hihihi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah ah.</p>
<p style="text-align: justify;">Met malem semuanya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/bad-bad-boy/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yuuuu&#8230;. wud neveeeerrrrr.. kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii&#8230;..</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/yuuuu-wud-neveeeerrrrr-kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/yuuuu-wud-neveeeerrrrr-kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 10:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[It's About Me]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3367</guid>
		<description><![CDATA[Suka dengerin lagu, nggak?
Ehm, suka nyanyi juga, nggak?
Saya, sih, suka banget! Saking sukanya, saya dulu pernah mewakili Indonesia ke sebuah kontes nyanyi di Taipe sana dan memenangkan juara Harapan&#8230; ya, diharapkan untuk tidak kebanyakan mimpi menjadi wakil Indonesia ke kontes nyanyi-nyanyian, maksudnya!  
.. eh, tadi tau, dong, kalau saya bohong? Udah, jangan percaya, deh. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suka dengerin lagu, nggak?<br />
Ehm, suka nyanyi juga, nggak?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya, sih, suka banget! Saking sukanya, saya dulu pernah mewakili Indonesia ke sebuah kontes nyanyi di Taipe sana dan memenangkan juara Harapan&#8230; ya, diharapkan untuk tidak kebanyakan mimpi menjadi wakil Indonesia ke kontes nyanyi-nyanyian, maksudnya! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">.. eh, tadi tau, dong, kalau saya bohong? Udah, jangan percaya, deh. Cuman orang khilaf aja yang nekat ngebiarin saya jadi juara di kontes nyanyi, apalagi sampai ngebiarin saya jadi wakil sebuah negara.. Haha!<span id="more-3367"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena yang tadi bohong, saya akan bicara jujur aja sekarang. Saya memang suka banget sama nyanyi. Hidup saya nggak akan jauh-jauh dari nyanyi, nyanyi, dan nyanyi. Rasa cinta saya buat nyanyi sebanding lurus dengan rasa cinta saya pada dunia tulis-menulis. Tidak ada yang bisa mengalahkan, karena keduanya adalah hal yang sama beratnya. Saya hobi nyanyi juga nulis. Titik, nggak pake koma.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya suka banget sama nyanyi, mungkin karena tertular dari Papi saya tercinta, si Edi Purwono yang belakangan punya Fesbuk juga. Alamak! Gayamu, Dad! Hihi.</p>
<p style="text-align: justify;">Papi dan Mami saya memang hobi nyanyi. Lagunya, kebanyakan adalah lagu-lagu yang lawas-lawas. Mulai dari lokal sampai luar negeri, mereka hobi bernyanyi via laser disc player yang diletakkan di ruang tidur utama alias kamar mereka. Berbekal mic yang disetel kenceng, tetangga bakal mengira kalau di rumah saya sedang diadakan kontes karaokean antar RT! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tapi saya beruntung banget, lho, punya orang tua yang hobi nyanyi. Saya bisa kecipratan hobi nyanyi, sekalipun rasanya aneh juga ngeliat anak kecil umur delapan tahun sudah bisa nyanyi lagunya Bee Gees. Udah lagu yang lamaaaa banget, eh Nginggris, pulak! Asyik, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, karena berbekal karaoke itu pula, saya jadi pinter bahasa Inggris lho *kepedean.com*. Gara-gara nyanyi-nyanyi lagu &#8220;Great Pretender&#8221;, &#8220;Sealed with a Kiss&#8221;, &#8220;Answer Me, My Love&#8221;, &#8220;Moon River&#8221;, dan sebangsanya itu, saya jadi semakin pintar melafalkan bahasa Inggris, sekalipun seringkali saya nggak tahu apa artinya. Tapi sejak umur sembilan tahun, Mami mendaftarkan saya ke tempat kursus bahasa Inggris, jadi akibatnya, saya tau banget soal cecintaan di lagu-lagu yang sering dinyanyikan Mami! Hehe&#8230; rupanya dari sinilah bibit keganjenan saya dipupuk&#8230; <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenapa, dengan bekal les bahasa Inggris dan orang tua yang hobi nyanyi Nginggris di kamar, saya jadi lumayan ngerti lah soal bahasa asing itu. <em>Little little sih I can&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan saya beruntung bisa nyanyi dengan bahasa Inggris yang baik dan benar. Tidak seperti seorang teman bermain saya, yang sampai sekarang kelucuannya membuat saya terkikik geli saat mengenangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu tahu lagu &#8220;Goodbye&#8221;nya Air Supply, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi suatu hari, saat lagu itu lagi <em>booming</em> banget, mungkin awal tahun 90-an gitu, temen main saya itu bernyanyi dengan gegap gempita dan begitu yakin. Sampe merem melek segala! Lebay? Ah, ini serius, saya nggak lebay!</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu dia nyanyi begini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yuuuu&#8230;. wud neveeeerrrrr.. kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii&#8230;..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">HAHHHH????</p>
<p style="text-align: justify;">Saya dengerin lagi aja terus, sambil mainan masak-masakan dengan kakak perempuannya, lalu lagi-lagi dia bernyanyi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yuuuu&#8230;. wud neveeeerrrrr.. kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii&#8230;..&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi saya cuman melongo. HAH?</p>
<p style="text-align: justify;">Dari nada-nadanya sih, saya tau kalo lagu itu adalah Goodbye-nya Air Supply, tapi kok malah njelandrah jadi Yuuuu&#8230;. wud neveeeerrrrr.. kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii&#8230;..?</p>
<p style="text-align: justify;">Bukannya lirik sesungguhnya tuh : &#8220;You would never ask me why?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu saya ketawa setengah mati karena menyadari kalau teman saya itu cuman bernyanyi berdasarkan pendengarannya saja, tapi nggak bener-bener melihat teksnya. Apalagi memahami artinya. Emang sih, artinya tetep sama-sama sendunya. Kuciwai kan mirip sama kecewa, jadi podho wae lah, podho sendu-ne! Hehe. Cuman ya gitu tadi, kalau ada yang ngedengerin dan ngerti, apa dia ndak malu?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Well, </em>untung dia masih anak kecil, yang ditolerir banget kesalahannya. Maklum, jaman segitu, Bahasa Inggris baru diajarin saat SMP, kan? Jadi anak SD ngomong Inggris kacau, yo maklum, laaahhh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Cuman sejak saat itu saya punya prinsip yang lumayan ketat soal pemilihan lagu, soal standar lagu-lagu yang bakal masuk <em>list </em>MP3 <em>player</em> saya atau lagu-lagu yang saya pilih saat masuk ke dalam ruang karaoke dan nyanyi bersama teman-teman saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memang suka nyanyi, tapi saya cuman menyanyikan lagu-lagu yang saya mengerti artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya nggak bakalan nyanyi lagu Mandarin, sekalipun temen-temen sekantor banyak yang berebut nyanyi lagu itu padahal mereka juga gableg banget alias nggak ngerti artinya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya nggak bakalan nyanyi lagu Jepang dan cuman nyanyi lagu-lagu tertentu yang saya tahu artinya, seperti True Love (ost. Ordinary People), First Love dan The Flavor of Love-nya Utada Hikaru, dan satu lagi, ost-nya film Tokyo Love Story. Eh, satu lagi deng. Furusato, lagu jaman sekolah dasar yang saya hafal lahir batin <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Sisanya? Ogah!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bakal nyanyi lagu dengan bahasa yang saya mengerti. Indonesia dan Inggris saja. Alasannya cuman satu: biar saya bisa menghayati. Lah, buat apa nyanyi kalau sekadar nyanyi? Yang nikmat dari bernyanyi kan saat kita bernyanyi dengan hati, dengan perasaan, lah kalau nggak tau artinya dan tanpa menghayati, mendingan nggak usah, deh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Rewel bener, kan, saya?</p>
<p style="text-align: justify;">Yaaaahhh.. Namanya juga Lala Purwono. Kalau nggak rewel ya bukan Lala namanya&#8230; *bangga* <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Eh, tapi kamu tahu nggak, sih, sebetulnya alasan saya nulis posting kali ini adalah untuk nyari tahu, apa asih alasan kamu suka banget sama sebuah lagu?</p>
<p style="text-align: justify;">Liriknya, kek.. Penyanyinya, kek&#8230; Musiknya, kek&#8230; Atau apalaaahhh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya cuman kepengen tahu soal itu, kok.. Ini malah njelandrah kemana-mana kayak bendungan jebol.. hihi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, sudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kasih waktu buat menjawab, ya..</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo udah selesai, kumpulin di meja saya. Gimana? <em>Deal, </em>kan? <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">Kantor, Jumat, 16 Oktober 2009, 5.09 Sore</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/yuuuu-wud-neveeeerrrrr-kuccciiiiiiwwaaaaaiiiii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Jelangkung!</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/seperti-jelangkung/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/seperti-jelangkung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 09:27:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[It's About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Ide]]></category>

		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[Jelangkung]]></category>

		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3364</guid>
		<description><![CDATA[Pernah nonton film Jelangkung, nggak? Atau setidaknya familiar dengan jargon-nya yang mengatakan: &#8220;Datang tak diundang, pulang tak diantar&#8221;? Oh well, saya sih nggak akan cerita soal hantu-hantuan macam Jelangkung di blog saya, karena eh karena, saya adalah orang yang sangat penakut, sehingga menulis cerita tentang setan adalah nyari penyakit!
Lantas kenapa judulnya &#8220;Seperti Jelangkung&#8221;?
Hm, gini, gini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pernah nonton film Jelangkung, nggak? Atau setidaknya familiar dengan jargon-nya yang mengatakan: &#8220;Datang tak diundang, pulang tak diantar&#8221;? <em>Oh well, </em>saya sih nggak akan cerita soal hantu-hantuan macam Jelangkung di blog saya, karena eh karena, saya adalah orang yang sangat penakut, sehingga menulis cerita tentang setan adalah nyari penyakit!</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas kenapa judulnya &#8220;Seperti Jelangkung&#8221;?<span id="more-3364"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hm, gini, gini. Seperti yang sudah saya tulis di atas tadi, jargon film yang sempat bikin heboh di awal tahun 200o-an itu memang mengilhami penulisan saya kali ini (yang pastinya jauh dari setan dan teman-temannya itu). Ya, saya akan cerita sama kamu semua tentang inspirasi, tentang ide, atau ilham, yang datang ke dalam isi kepala saya seperti sosok Jelangkung.</p>
<p style="text-align: justify;">Datang nggak diundang.<br />
Pulang nggak diantar.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;.Jelangkung yang nggak tau diri, tapi mandiri! Hihihi!</p>
<p style="text-align: justify;">Eniwei,</p>
<p style="text-align: justify;">Memang seperti itulah inspirasi yang muncul ke dalam isi kepala saya, selama ini. Tidak pernah diundang, selalu mampir sendiri dan bikin ricuh otak saya kalau saya endapin kelamaan. Datangnya pun nggak tentu; bisa tengah malam, bisa saat saya sedang mengerjakan laporan yang <em>deadline</em> beberapa jam lagi, bisa saat saya sedang duduk ngantuk di dalam sebuah angkot, atau bahkan saat saya sedang *maaf* buang aer besar! Haha. Seandainya saya nekat, saya sih pingin banget mangku laptop sambil buang hajat, tapi kok kesannya piyeeeee gitu lho. Selain takut terkesan jadi perempuan aneh, saya juga takut kesetrum. Sumprit! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Dan inspirasi yang dateng seperti jelangkung itu bisa berwujud macem-macem. Mulai dari mendengarkan lagu, membaca buku, melihat pemandangan, mendengarkan cerita teman, bahkan saat melihat ulet bulu, si ide yang mirip jelangkung itu membuat jari-jemari saya gatel buat menulis. Makanya, kalau saya kebetulan lagi ada ide tapi kondisi nggak memungkinkan untuk menulis, saya harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga mood saya agar tetap niat menulis kalau kondisinya memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya adalah penulis yang instan, yang nggak pake mikir mau nulis apaan. Dan saya adalah penulis yang sangat <em>moody</em>, yang kadang nafsu banget nulis sesuatu tapi bisa berhari-hari malesnya ampun-ampunan. Jadi, jadi, menjaga <em>mood </em>itu penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kenapa, saya benci sekali dengan ide yang mampir seperti Jelangkung; yang dateng tanpa saya duga, tanpa saya inginkan, tanpa saya butuhkan, dan bikin saya cemas setengah mati karena udah keburu pingin nulis tapi waktunya nggak memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa, sih, inspirasi itu datangnya nggak terjadwal aja kayak jadwal pesawat terbang, misalnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Jam 6 pagi, jam 7 pagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Ya, tentu saja supaya saya bisa terorganisir dalam menulis! Haha, banyak maunya, ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi apapun itu, biar kata inspirasi saya dateng pergi seenak udelnya tanpa diminta seperti seorang Jelangkung keganjenan (ngebayangin Jelangkung pake gincu pink dan jejogetan! alamak!), saya bersyukur sekali karena inspirasi itu masih datang dan terus datang tanpa saya minta. Saat saya duduk di angkot, saat saya <em>hang out</em> dengan sahabat-sahabat, saat saya sedang bengong menunggu antrian servis hp, saat saya sedang mendengarkan lagu di radio&#8230;. Sungguh, saya sangat bersyukur!</p>
<p style="text-align: justify;">Ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Biarpun mirip dengan jelangkung, tapi saya bersyukur karena inspirasi itu selalu mampir ke dalam hari-hari saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih untung inspirasi itu masih sudi mampir, lah kalau nggak, mau sampai dunia kiamat saya nggak bakalan sempat mengincipi jadi penulis yang, insyaAllah, bakal terkenal, dong? Wong dengan ide yang mampir jarang-jarang bak jelangkung aja saya belum-belum juga jadi penulis terkenal, apalagi kalau nggak mampir sama sekali, tho?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, Jelangkung&#8230; Jelangkung&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Monggo mampir, monggo berkunjung&#8230;<br />
Saya bakal membuka pintu saya dengan terbuka. Kapanpun, deh. Terserah sampeyan! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">..</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;eh, tapi, tapi, tapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya maksud Jelangkung tadi tuh IDE dan INSPIRASI lho, ya.. Bukan Jelangkung beneran alias setan buduk!</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo yang itu, sih&#8230; Amit-amit Jabang Britney!!!!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">Kantor, Jumat, 16 Oktober 2009, 4.26 Sore</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/seperti-jelangkung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Walk in Someone Else&#8217;s Shoes</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/walk-in-someone-elses-shoes/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/walk-in-someone-elses-shoes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 05:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts to Share]]></category>

		<category><![CDATA[AIDS]]></category>

		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[HIV]]></category>

		<category><![CDATA[One Life Do Something]]></category>

		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>

		<category><![CDATA[World Vision Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3355</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang memang tidak akan pernah bisa berjalan dengan memakai sepatu orang lain. Okay, not literally, tidak sungguh-sungguh dengan meminjam sepatu orang lain lalu kamu memakainya untuk pergi ke suatu tempat, tapi mencoba memakai &#8217;sepatu&#8217; orang lain untuk mengetahui bagaimana persisnya menjadi seorang pemilik &#8217;sepatu&#8217; itu.
Merasakan apa yang orang lain rasakan.
Mendengarkan apa yang orang lain dengarkan.
Menganalisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seseorang memang tidak akan pernah bisa berjalan dengan memakai sepatu orang lain. <em>Okay, not literally</em>, tidak sungguh-sungguh dengan meminjam sepatu orang lain lalu kamu memakainya untuk pergi ke suatu tempat, tapi mencoba memakai &#8217;sepatu&#8217; orang lain untuk mengetahui bagaimana persisnya menjadi seorang pemilik &#8217;sepatu&#8217; itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasakan apa yang orang lain rasakan.<br />
Mendengarkan apa yang orang lain dengarkan.<br />
Menganalisa dan berpikir seperti orang itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>To walk in someone else&#8217;s shoes means to become someone else.</em> Sepaket lengkap dengan cara pandang, cara bereaksi, cara berpikir, cara mengatasi masalah&#8230; <em>One whole package</em>&#8230; semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada yang berhasil sepenuhnya &#8216;memakai sepatu orang lain&#8217;. &#8216;Ukuran&#8217;nya tidak akan sama, karena setiap orang memiliki &#8217;sepatu&#8217; yang spesifik. &#8216;Sepatu&#8217; ini unik karena memiliki bentuk yang mengikuti lekuk-lekuk &#8216;jemari kaki&#8217; masing-masing orang, yang tentu tidak akan pernah pas buat orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>That&#8217;s why, </em>ada pepatah yang mengatakan, &#8220;<em>Nobody could walk in someone else&#8217;s shoes.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekalipun buat saya, <em>everybody has the chance to try it on, </em>untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang lain, serta untuk berhenti menjustifikasi setiap keputusan orang lain, yang mungkin saja, terasa terlalu tidak masuk akal untuk pemikiran sempit seorang saya&#8230;<span id="more-3355"></span></p>
<p style="text-align: center;">**</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Jumat kemarin, saya meminjam &#8217;sepasang sepatu&#8217; orang lain. Ya, saya mencoba menjadi orang yang sama sekali tidak saya kenal, untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan bernama Retno, makhluk Tuhan yang menghadapi banyak cobaan dalam hidupnya, mulai dari masa kecil yang sulit, sampai setelah menikah dengan suami pengidap HIV Aids dan menjadi janda sebanyak dua kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Jumat kemarin saya memang mendatangi sebuah <em>fair</em> bertajuk One Life, Do Something, di <em>Convention Hall</em>, Tunjungan Plaza. Acara yang digagas oleh World Vision Indonesia, yang mencoba untuk memperkenalkan masyarakat awam tentang bahaya penyakit Aids sekaligus meluruskan anggapan kami kalau penyakit Aids tidak menular hanya karena berjabat tangan atau menghirup oksigen yang sama dalam satu ruangan.</p>
<div id="attachment_3359" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/s3010443.jpg"><img class="size-medium wp-image-3359" title="s3010443" src="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/s3010443-225x300.jpg" alt="s3010443" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Suvenir dari acara One Life, Do Something --&gt; tas, buku agenda, buku bacaan, pin, dll... :)</p></div>
<div id="attachment_3360" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/s30104411.jpg"><img class="size-medium wp-image-3360" title="s30104411" src="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/s30104411-225x300.jpg" alt="s30104411" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pin ini sempet &#39;ngikut&#39; kemanapun saya pergi, lho... hehe</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Bertiga dengan Ly dan Tat, sahabat GangGila, saya pun datang ke lantai enam untuk mencoba salah satu &#8217;sepatu&#8217; dari lima orang yang merelakan &#8217;sepatu&#8217;nya dipinjam oleh semua orang yang datang ke sana.</p>
<div id="attachment_3361" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/s30104381.jpg"><img class="size-medium wp-image-3361" title="s30104381" src="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/s30104381-225x300.jpg" alt="s30104381" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Berpose di wall of fame; setelah kembali memakai &#39;sepatu&#39; sendiri-sendiri... :)</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Saya meminjam &#8217;sepatu&#8217; Retno, perempuan korban perkosaan, yang menikah dengan pecandu narkoba lalu ketahuan mengidap virus HIV dan meninggal beberapa saat setelah anak keduanya lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Ly meminjam &#8217;sepatu&#8217; Tasya, bocah kecil usia tiga tahun, pengidap HIV karena Bapak dan Ibunya juga pengidap HIV.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Tat, malam itu dia meminjam sepatu &#8216;Anjali&#8217;, seorang perempuan dari India, yang terlahir dari sepasang suami istri pengidap Aids, yang kemudian harus menjadi tulang punggung dua adiknya yang juga mengidap HIV, karena dia adalah satu-satunya anak yang lolos dari virus tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, kami bertiga bukanlah Lala, Ly, dan Tat, karena malam itu, kami bertiga bertransformasi menjadi Retno, Tasya, dan Anjali. Bermodalkan <em>mp3 player</em> berikut dengan <em>earphone</em> yang menyumpal kedua telinga, kami pun berjalan-jalan dengan sepatu mereka dan dalam tempo tidak kurang dari dua puluh menit, kami tahu, <em>it was never easy to wear someone else&#8217;s shoes&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>**</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penggagas acara, <em>World Vision Indonesia </em>patut diacungi jempol. Setiap peminjam &#8217;sepatu&#8217; akan berjalan-jalan, masuk ke dalam ruangan-ruangan dengan dekorasi ruang yang sangat deskriptif. Saya seolah benar-benar menjadi seorang Retno, karena di sekeliling saya, ruangan-ruangan tersebut seolah bernyawa. Ditambah dengan narasi yang diperdengarkan melalui <em>mp3 player</em>, saya semakin larut dengan suasana.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika narator bercerita tentang kehidupan Retno semasa sekolah, saya berada di sebuah ruangan yang begitu jelas mendeskripsikan meja belajarnya, warung makanan ayah ibunya, berikut dengan botol kecap serta mangkuk berisi mie. Ketika sampai di masa-masa kuliah Retno di Bali, saya berada di sebuah ruangan yang sangat Bali. Saat narator bercerita tentang pemerkosaan Retno oleh Nyoman, teman dekatnya, ketika mereka sedang berjalan-jalan di atas laju mobil, saya berada di sebuah ruangan dengan kursi mobil dan tumpukan baju-baju yang berserakan di atasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan, sesuai dengan petunjuk narator yang selalu mengatakan, &#8220;Ayo, Retno, tetap tersenyum yaa&#8230; Sibakkan tirai di depanmu&#8230; jangan takut&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke dalam ruangan dengan narasi yang menggugah perasaan membuat saya terlarut menjadi tokoh Retno, perempuan yang akhirnya diketahui tidak mengidap HIV sekalipun aktif secara seksual dengan penderita Aids (dia baru saja mengetahui suaminya, yang mantan pecandu narkoba, menderita Aids, beberapa bulan sebelum suaminya meninggal).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>After twenty minutes, </em>saya mengembalikan &#8217;sepatu&#8217; Retno lalu kembali memakai &#8217;sepatu&#8217; saya sendiri, dengan pemikiran yang sama sekali baru&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">**</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya sedikit banyak mengetahui tentang bagaimana perasaannya ketika harus bersekolah dengan rajin agar bisa tetap sekolah, khususnys di sekolah dan universitas negeri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya sedikit banyak mengetahui tentang rasa bahagianya saat berhasil masuk ke sebuah universitas negeri di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan baik-baik yang terenggut keperawanannya karena diperkosa oleh teman terdekatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya menjadi tahu, betapa tersiksanya harus menjadi istri kedua seorang suami yang doyan kawin dan selingkuh sana sini, hanya karena ketidakperawanannya membuat tidak punya pilihan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi seorang Retno, saya tahu bagaimana menderitanya dia harus bercerai dengan suami pertamanya yang ketahuan selingkuh, sekaligus tahu betapa senangnya ketika akhirnya ada seorang lelaki yang mau menerima dia apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi Retno, saya tahu bagaimana rasanya <em>being rejected </em>dari keluarga besar suami, yang mengusirnya pergi setelah suaminya meninggal karena penyakit Aids.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit menjadi Retno, saya tahu betapa susahnya untuk <em>survive</em>, membesarkan kedua anak yang beresiko terinfeksi virus HIV.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dalam waktu dua puluh menit menjadi Retno, saya tahu betapa gelisahnya saat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui apakah ia mengidap virus HIV, dan saya juga tahu, betapa leganya dia ketika tahu bahwa dia dan anak-anaknya baik-baik saja&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Dua puluh menit saja saya berjalan dengan beralaskan &#8217;sepatu&#8217; Retno, tapi saya sudah merasa kesakitan setengah mati. Bagaimana kalau saya memakainya lebih dari itu? Nggak kebayang!</p>
<p style="text-align: center;">**</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Try to walk in someone else&#8217;s shoes and you&#8217;ll find out how difficult it is to be that someone..</em></p>
<p style="text-align: justify;">Berhenti menjustifikasi keputusan orang lain, berhenti menganggap diri sendiri jauh lebih baik ketimbang orang lain *dan sebaliknya*, dan mencoba untuk mengerti bahwa setiap keputusan yang lahir di tangan masing-masing individu, pastilah melalui proses yang tidak mudah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Not everyday, every single minute and second you wear those shoes, <span style="font-style: normal;">jadi cobalah untuk memahami bagaimana harus berjalan terus-menerus, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun&#8230;. dengan memakai sepatu orang lain.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Saya jamin, </span>you&#8217;re gonna miss your own shoes&#8230; </em> <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">Kantor, Selasa, 13 Oktober 2009, 12.25 Siang<br />
Thanks to Lily yang udah ngasih tau soal acara ini&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/walk-in-someone-elses-shoes/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Kelana</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/menjadi-kelana/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/menjadi-kelana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 15:39:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[It's About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Blogger]]></category>

		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<category><![CDATA[Lala Purwono]]></category>

		<category><![CDATA[lugas]]></category>

		<category><![CDATA[NH18]]></category>

		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<category><![CDATA[Open Diary]]></category>

		<category><![CDATA[postingan]]></category>

		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<category><![CDATA[www.curhatkelana.blogspot.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3352</guid>
		<description><![CDATA[Susah memang, menjadi perempuan yang narsis semacam saya. Perempuan yang sangat ekspresif dalam memuntahkan isi pikirannya di dalam tulisan-tulisan yang terkadang terlalu personal untuk dibagi ke semua orang, ke dalam sebuah blog yang mudah diakses dalam satu klik mouse komputer.
Salah seorang blogger, namanya NH18, pernah menyebut kalau gaya tulisan saya adalah LUGAS. Bahkan, beliau juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Susah memang, menjadi perempuan yang narsis semacam saya. Perempuan yang sangat ekspresif dalam memuntahkan isi pikirannya di dalam tulisan-tulisan yang terkadang terlalu personal untuk dibagi ke semua orang, ke dalam sebuah blog yang mudah diakses dalam satu klik <em>mouse</em> komputer.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang <em>blogger</em>, namanya<a href="http://theordinarytrainer.wordpress.com"> NH18</a>, pernah menyebut kalau gaya tulisan saya adalah <a href="http://theordinarytrainer.wordpress.com/2008/07/03/lugas/">LUGAS</a>. Bahkan, beliau juga pernah bilang kalau saya tuh meledak-ledak bagai <em>dynamite</em>. <em>Okay, </em>mungkin maksudnya adalah saya tuh perempuan yang bawel dan cerewet. Ya, ya, ya. <em>Point taken</em>, Om. Saya ngerti <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-3352"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, dengan gaya tulisan saya yang blak-blakan, yang seringkali susah menyembunyikan perasaan saya yang sesungguhnya, yang malah berkali-kali &#8216;bocor halus&#8217; dengan menceritakan hal-hal yang seharusnya tak perlu dibagi pada orang lain&#8230; <em>just because, </em>ya, seperti yang saya bilang tadi, <em>too damn personal</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi bagaimana lagi?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>That&#8217;s just who I am, </em>perempuan yang hidupnya seperti <em>open diary</em> dan tak segan membagi isi hatinya. Yang, <em>in fact</em>, malah seolah nggak bisa untuk diam saja jika hatinya sedang gaduh oleh masalah ini itu. Sementara, <em>there were also times </em>ketika saya tidak sepatutnya membagi apa yang saya rasakan<em>, </em>sehingga saya musti menggenggam erat jari-jemari saya supaya tidak gatal dalam menuliskannya di media manapun.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;<em>padahal, kamu tahu seberapa gilanya saya menulis, kan? dan seberapa gilanya saya ingin membagi isi hati saya?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu kali, saya malah pernah membuat blog dengan nama samaran. Haha, kalian sadar nggak, sih, kalau saya sempat beredar ke blog-blog kalian dengan blog baru itu? Di blog itulah saya merasa menjadi seseorang yang lain, yang bukan Lala Purwono, tapi seseorang yang SANGAT Lala Purwono, seseorang yang benar-benar Lala Purwono. Blog yang berisi tentang isi hati terdalam saya, mulai dari pemikiran yang sinting sampai jeritan hati yang memilukan *tsah! ngak segitunya, kaleee.. hiihihi*</p>
<p style="text-align: justify;">Si Lala Purwono the Second itu sempat lalu lalang beberapa bulan sampai akhirnya saya capek sendiri. Ya, capek, lelah, <em>exhausted</em>. Saya merasa sangat lelah untuk menjadi orang lain padahal sesungguhnya <em>that is the real me</em>. Kenapa musti repot-repot banget padahal saya menjadi diri sendiri, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, tepat di saat itulah saya sadar, saya tak perlu bersusahpayah melakukan ina inu kalau pada ujung-ujungnya saya malah menjadi diri sendiri. Gimana kalau saya menjadi orang lain saja, sekalian? Ya, menjadi orang lain, tapi tetap, di situ saya masih bisa dengan leluasa memuntahkan seluruh ide dalam isi kepala saya, di karakter itu saya masih bisa menyuarakan pendapat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak membohongi siapa-siapa, <em>not anyone else and </em><em>not even myself. </em>Saya cuman ingin menyuarakan isi hati saya tanpa perlu orang-orang merasa saya keliwat naif karena masalah yang saya bagi adalah <em>too damn personal</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menciptakan tokoh ini: <strong><a href="http://curhatkelana.blogspot.com">Kelana</a></strong>. Seorang gadis lajang usia dua puluh delapan tahun, yang bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan Advertising. Perempuan kelahiran Jogja ini bersahabat dengan Sasya, seorang Sekretaris yang bawel, dan memiliki <em>big crush</em> dengan boss di kantornya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menjadi Kelana, saya bebas mencurahkan apa saja. Mengangkat topik apa saja. Berpendapat apa saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>I know, I know. </em>Kesannya memang saya berlindung lagi di balik tokoh orang lain padahal saya bernyawa di dalamnya. Tapi, karena saya adalah tipe penulis blog yang sifatnya <em>diary</em> dan paling susah menulis soal <em>anything but my own feelings</em>, sepertinya tokoh Kelana adalah seseorang yang bisa membuat <em>mood</em> nulis saya yang belakangan anjlok (karena isi hati sedang gaduh setengah mampus), bisa naik kembali. Kelana bisa membangkitkan keinginan menulis saya. Kelana bisa membuat saya <em>back on track again</em>. Ya, <em>she did</em>!</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin di antara kamu ada yang menilai kalau ini adalah <em>alter ego</em> saya. Ya, ya, terserah saja. Saya menemukan keasyikan tersendiri saat bercerita tentang Kelana, sama seperti saya asyik menulis, setahun yang lalu, ketika satu hari tak mungkin terlewati tanpa satu tulisan baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Kelana bisa membuat saya bersemangat lagi, kenapa tidak, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, teman-temanku tersayang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kamu menyangka kalau saya sudah tidak aktif menulis lagi. Tapi percayalah, saya masih sangat mencintai dunia tulis-menulis dan berharap bisa berkarir di dunia ini, <em>someday, somehow.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan kalau suatu hari kamu menemukan <em>blog </em>ini kosong, tanpa pemiliknya&#8230; um, gimana kalau kamu tengok ke rumah sebelah, dan cari saya di sana. Ya, mungkin saja saya sedang bersama Kelana. Bercengkerama dengan Kelana di rumah barunya&#8230; <strong><a href="http://curhatkelana.blogspot.com">http://curhatkelana.blogspot.com</a></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa tau aja kamu kangen sama saya&#8230;<br />
Udah deh, ngaku aja&#8230; *kedip-kedip*</p>
<p style="text-align: justify;">Because what?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kangeeeennn sekali sama kamu semua&#8230; Maafkan saya yang jarang blogwalking yaah&#8230; <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><em>I&#8217;ll see you again, soon.<br />
</em>Dan.. pssttt&#8230; dapet salam dari Kelana, tuh! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Love,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/lala.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3353" title="lala" src="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/10/lala-300x225.jpg" alt="lala" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">**</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Kamar, Minggu, 11 Oktober 2009, 10.37 Malam<br />
Udahlah open diary, njeplak, bawel kayak petasan banting&#8230; NARSIS pulak! Paket hemat dan lengkap kayak MCD aja, gueee&#8230; hihihihi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/menjadi-kelana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>It Was More Than Just a Ring&#8230;</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/10/it-was-more-than-just-a-ring/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/10/it-was-more-than-just-a-ring/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 17:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Just a Thinking]]></category>

		<category><![CDATA[Thoughts to Share]]></category>

		<category><![CDATA[daily's blings]]></category>

		<category><![CDATA[Cincin]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[Kawin]]></category>

		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3349</guid>
		<description><![CDATA[Cincin itu selalu melingkar di jari manisnya. Cincin bermata berlian mungil, dengan perfect cut, yang berkilau sempurna ketika tertimpa cahaya itu selalu melingkar di jari manisnya dan tak pernah sekalipun tanggal dari sana, mengikuti kemanapun ia melangkah pergi.
Pernah suatu kali seorang teman bertanya padanya ketika ia kelimpungan saat mengetahui jarinya telanjang tanpa cincin berlian mungil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cincin itu selalu melingkar di jari manisnya. Cincin bermata berlian mungil, dengan <em>perfect cut, </em>yang berkilau sempurna ketika tertimpa cahaya itu selalu melingkar di jari manisnya dan tak pernah sekalipun tanggal dari sana, mengikuti kemanapun ia melangkah pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu kali seorang teman bertanya padanya ketika ia kelimpungan saat mengetahui jarinya telanjang tanpa cincin berlian mungil itu tadi, &#8220;Bukannya tadi kamu sudah telepon ke rumah dan tahu persis kalau cincin itu ada di kotak perhiasan, di meja riasmu? Dan sudah diamankan oleh Ibumu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ia mengangguk, tapi sembari berkata, &#8220;Iya, sih. Tapi kamu tahu, kan, apa artinya cincin itu buat aku?&#8221;<span id="more-3349"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mahal?&#8221; tanya sahabatnya ngaco.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selain mahal,&#8221; dia menjawab dengan sebal, &#8220;cincin itu juga tanda kalau aku menghargai ikatan perkawinanku sama Andy.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ah, memang kenapa kalau cincin itu nggak sengaja tertinggal di rumah setelah kamu luluran di rumah tadi? Artinya kamu nggak menghargai suamimu? Artinya kamu mencoba untuk mengkhianati perkawinanmu dengan Andy? Itu cuman simbol, kan? Cincin itu cuman simbol dan pastinya, kamu nggak sengaja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dia memandang sahabatnya dengan sebal. &#8220;<em>It was more than just a ring</em>, kali. Tanpa memakai cincin itu, artinya semua orang melihat aku sebagai perempuan lajang yang <em>available</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hah?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Artinya, aku menciptakan peluang untuk menarik perhatian lawan jenis!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hah???&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Artinya, aku membuka peluang untuk selingkuh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sahabatnya cuman mendesis dalam hati, &#8220;Plis deh! Cuman lupa pake cincin aja artinya dia siap berselingkuh? Yang bener ajeh!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan itu berusia tiga puluhan, awal tiga puluh. Berambut gelap, ikal, dengan poni serupa Cleopatra yang sering membuatnya dijuluki Cleopatra *ya, apa lagi, memangnya? <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> * Dia baru saja menikah dengan lelaki pujaanya, Andy namanya. Seorang lelaki berusia tak jauh darinya yang kini sedang merintis karir sebagai pengusaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Cincin berlian yang menghebohkan itu memang pemberian dari Andy saat mereka melangsungkan akad nikah, beberapa bulan yang lalu. Cincin berlian dengan ukiran nama Andy itulah yang membuatnya sempat beradu argumentasi dengan sahabatnya ketika mereka sedang <em>hang out</em> di sebuah kedai kopi, di sebuah pusat perbelanjaan, beberapa saat yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Irene, sahabatnya, memang tidak tahu persis seberapa besar artinya jika cincin itu tak melingkar di jari manisnya, ketika seluruh pasang mata di dunia sedang mengamatinya. Karena cincin kawin dari Andy itu adalah simbol kalau ia telah menikah dan berkomitmen penuh untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Ya, setidaknya, dengan memakai cincin itu, seluruh syaraf di tubuhnya menginstruksikan dirinya untuk terus mengingat suaminya, mengingat komitmennya. Itulah keajaiban cincin kawin itu; bisa membuatnya tidak lepas kendali!</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kalau cincin itu sampai tertinggal atau tak melingkari jari manisnya, Moura, perempuan itu, pasti langsung senewen sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sama senewennya kalau melihat jari Andy terlihat polos tanpa cincin kawin dengan model yang sama itu. Di dalam benaknya cuman satu, &#8220;Kenapa Andy sampai mencopot cincin itu, ya? Jangan-jangan dia&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jutaan skenario-skenario ala sinetron terus mengisi benaknya dan membuat Andy harus berkali-kali bilang, &#8220;Tadi aku lagi betulin mobil, Sayang! Aku nggak selingkuh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi Moura, perempuan yang menganggap bahwa <em>the ring is more than just a ring</em>, tetap ngotot.</p>
<p style="text-align: justify;">Cincin itu lebih dari sekedar cincin emas putih, dengan berat sekian gram, dengan berlian tanam yang kecil mungil tapi berkilauan sempurna ketika tertimpa cahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cincin itu adalah komitmen.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dengan alasan apapun juga, <em>the ring should always stay there, </em>di jemarinya dan Andy.</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak pake alesan!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Saya adalah perempuan lajang yang akan genap tiga puluh tahun dalam beberapa bulan lagi. Belum pernah menikah, belum lagi bertunangan, atau belum pernah mendapatkan hadiah cincin dari mantan kekasih. Saya belum pernah merasakan <em>nikmat</em>nya merasakan sebuah cincin yang sarat akan nilai-nilai di luar kosmetik, karena memang, cincin-cincin yang pernah melingkar di jari jemari saya adalah cincin yang saya beli untuk gaya-gayaan saja. Pemanis saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sekalipun demikian, saya pasti akan bereaksi seperti Irene jika menghadapi kerewelan sahabatnya cuman karena sebuah cincin yang tertinggal, tanpa sengaja. Karena buat saya, <em>it was just a ring</em>. Tidak memakai cincin itu bukanlah akhir dari dunia. Tidak memakai cincin itu bukan lantas otomatis dunia telah mendudukkan seseorang di bangku kaum lajang yang siap dicolek. Tidak memakai cincin bukan berarti seseorang mengkhianati suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>For God&#8217;s sake. </em>Itu tidak sengaja!</p>
<p style="text-align: justify;">Kecuali kalau memang cincin itu sengaja disimpan dalam laci meja rias, kemudian dia keluar dengan seorang lelaki yang naksir berat padanya tapi minus informasi tentang <em>marital status</em>nya, itu artinya, dia memang sengaja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau kenyataannya adalah cincin itu tanpa sengaja tertinggal, lalu ia terburu-buru menempuh jarak beberapa kilo meter untuk bertemu dengan sahabatnya di sebuah kedai kopi, mengobrol ngalor ngidul sampai waktu tergerus habis tanpa terasa, dan tidak iseng menggodai lelaki-lelaki di meja lain, masa itu artinya dia tidak menghargai pernikahan dan komitmennya terhadap suami?</p>
<p style="text-align: justify;">Edan, kan?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya; cincin kawin bolehlah menjadi simbol bahwa seseorang telah resmi berkomitmen dengan pasangannya, tapi tidak berarti, seluruh dunia berkonspirasi menjadikan saya seorang perempuan gatel yang ingin berselingkuh jika cincin itu tertinggal di rumah, tanpa sengaja!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>That&#8217;s it.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Bagi saya, cincin adalah cincin. Sekadar barang mahal. Sekadar simbol saja. Kelak, jika saya menikah, saya malah pingin dibelikan gelang saja, yang bergrafirkan tulisan nama pasangan saya. Bukan kenapa-kenapa, saya cuman paling teledor kalau memakai perhiasan. Apalagi cincin yang mudah lepas. Kalau gelang, selama pengaitnya tidak rusak, gelang kawin itu akan terus melingkar di pergelangan tangan saya.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Jadi buat saya, tidak penting seseorang memakai cincin kawin. Tidak sedikit yang saya jumpai memakai cincin kawin tapi tetap bermesraan dengan orang yang bukan pasangannya, kok, jadi memakai cincin kawin bukanlah jaminan kalau orang tersebut akan tetap berada di dalam koridor yang semestinya.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Komitmen musti dijaga, </span>with or without a ring <span style="font-style: normal;">(atau gelang? hehe).</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Mau dipakai di jari, kek. Dijadikan liontin, kek. Atau kalau dengan sangat terpaksa, di&#8217;sekolah&#8217;kan di pegadaian, kek&#8230; komitmen musti tetap dijaga. </span>No question.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ring is just a ring.<br />
<span style="font-style: normal;">&#8230;.sampai beberapa saat tadi.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Dia ngelemparin cincin itu di depan mukaku, La,&#8221; kata seorang teman via telepon, beberapa saat yang lalu.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Hah? Memang kenapa?&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Kami bertengkar hebat.&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Lalu?&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Dia menuduhku berselingkuh dengan perempuan lain.&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Emang kamu selingkuh?&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Gila! Ya, nggak, lah.&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Lantas, kenapa dia nuduh kamu selingkuh?&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Jarak jauh membuat dia senewen dan cemburuan!&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Sudah kamu jelaskan?&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Sudah, tapi yang ada, dia malah melempar cincin itu di depan mukaku, di depan orang tuanya.&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Oh ya?&#8221;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">&#8220;Iya. </span>And it was official. <span style="font-style: normal;">Aku nggak bisa menikah dengan perempuan kekanak-kanakan seperti dia. </span>The wedding is off<span style="font-style: normal;">&#8220;</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Cincin adalah simbol dari komitmen yang ia buat dengan calon istrinya. Cincin yang dia beli dengan susah payah, menabung sedemikian rupa, yang prosesi menyelipkan di jari manis kekasihnya itu melibatkan pesta pertemuan antara dua keluarga besar, di mana Bude Pakde, Tante Om, Sepupu-Sepupu dan Keponakan-keponakannya berkumpul di satu ruang lalu menjadi saksi bahwa dia akan menikah di tanggal yang telah ditentukan, dengan perempuan yang ia cintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kemudian cincin itu terlempar di depan wajahnya, dia kemudian menganggap bahwa kekasihnya telah menganggap remeh komitmen yang susah payah dia bangun dan membuatnya harus menghabiskan akhir pekannya menempuh perjalanan yang jauh demi bertemu dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>He went through all the troubles, he tried his best to be faithful, </em>tapi yang terjadi adalah, cincin yang susah payah ia selipkan sembari menghadirkan seluruh keluarga besar di dalam satu ruangan, malah terlempar di depan mukanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia marah dan geram.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mungkin kalian sedang emosional&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapa yang tidak emosional? Aku sendiri juga marah, tapi aku nggak berniat sekalipun untuk mencopot cincin itu atau sampai ngelemparin di depan mukanya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi? Kamu nggak jadi kawin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yakin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yakin!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau dia mengiba-iba kamu, gimana?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Biarin!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau dia minta maaf dan berjanji nggak ngulangin lagi, gimana?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bodo!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yakin?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yakin!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan gara-gara percakapan via telepon itu tadi, saya melihat sebuah cincin dari perspektif yang berbeda, karena ternyata&#8230;. ya. Memang benar. Cincin boleh jadi cuman sebuah simbol dari komitmen yang telah dibuat oleh sepasang kekasih, di mana tak bisa menghalangi seseorang untuk berjalan di luar koridor, karena komitmen adalah soal keteguhan dan keinginan hati. Tapi kalau cincin itu terlempar ke depan muka saya, dicopot dengan sengaja sambil marah-marah dan menuduh saya macam-macam.. itu artinya, pasangan saya telah tidak menghargai perasaan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itulah, <em>it was more than just a ring that someone threw at me.<br />
It was more than just a shiny, expensive thing.<br />
It was more than that.<br />
Because it was&#8230;<br />
Our commitment.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Komitmen yang dengan sengaja terlempar, tercabik, tercarutmarut, hanya karena emosi semata. Uh, plis deh!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">Kamar, Kamis, 1 Oktober 2009, 00.40 Pagi<br />
Selamat datang kembali di dunia <em>single, </em>Pak!<br />
Tapi jangan ganggu saya, ya&#8230;. hehehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/10/it-was-more-than-just-a-ring/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>He didn&#8217;t raise me that way&#8230;</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/09/he-didnt-raise-me-that-way/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/09/he-didnt-raise-me-that-way/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 07:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[It's me... today]]></category>

		<category><![CDATA[Thoughts to Share]]></category>

		<category><![CDATA[Edi Purwono]]></category>

		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[optimis]]></category>

		<category><![CDATA[Papi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3343</guid>
		<description><![CDATA[Saya tahu, dunia tidak hanya bergerak di bawah kaki-kaki saya. Malah, saya tahu persis kalau bola dunia bergerak di milyaran pasangan kaki manusia-manusia yang segelintir di antaranya saya kenal sekali. World revolves under everyone else&#8217;s feet, satu kenyataan yang sudah sangat, sangat, SANGAT, saya ketahui.
Tapi ketika hati sedang tak mau kompromi untuk bernyanyi-nyanyi bahkan menyunggingkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya tahu, dunia tidak hanya bergerak di bawah kaki-kaki saya. Malah, saya tahu persis kalau bola dunia bergerak di milyaran pasangan kaki manusia-manusia yang segelintir di antaranya saya kenal sekali. <em>World revolves under everyone else&#8217;s feet, </em>satu kenyataan yang sudah sangat, sangat, SANGAT, saya ketahui.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ketika hati sedang tak mau kompromi untuk bernyanyi-nyanyi bahkan menyunggingkan sedikit senyum, meski kamu paksa sampai mati, bisakah kamu berpikir kalau dunia sedang becanda tidak lucu padamu?<span id="more-3343"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dunia cuman menggelitik bawah kakimu?</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia cuman berputar-putar di bawah kakimu?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya adalah perempuan yang pernah bicara tentang <em>world that revolves not just under my feet, but others too.</em> Rasanya seperti menelan ludah sendiri kalau nekat berkoar-koar tentang, &#8220;Kenapa semua orang bisa senyum saat gue lagi sedih gini? Sialan!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi saya tetap seorang perempuan *yang plin-plan*, dengan emosi yang tidak stabil *alias <em>moody </em>berat*, yang kadang begini kadang begitu, yang ketika sedang berada dalam <em>low self confidence, </em>dia ingin berlari ngumpet di balik ketiak ibunya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, ketika hati sedang ogah tersenyum, saya kemudian ingin berlari saja. Lepas dari kenyataan kalau saya pernah menasehati kawan saya, <em>that he should deal with everything, not running from it, </em>saya tetap saja ingin berlari, mencari tempat perlindungan, menangis sekencang-kencangnya di sana, berteriak memaki kalau memang ingin, lalu merangkul kaki yang dilipat sambil mencerocos mirip orang sinting&#8230;. dan merasa sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggerutu: <em>why me</em>?<br />
Menggerutu: <em>why now</em>?<br />
Menggerutu: <em>why should</em>?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi di saat seperti ini, selalu di saat-saat seperti ini, <em>I instantly remember my Dad, </em>iya. <a href="http://edipurwono.wordpress.com">Edi Purwono</a>, Papi saya yang paling saya kagumi. Beliau bukan orang yang sering menyerah sekalipun hidup menghimpitnya sampai ke pojok ruangan yang menyisakan sedikit oksigen untuk bernafas. Beliau selalu mengerahkan seluruh kekuatan yang beliau miliki demi untuk bisa mendorong himpitan itu dari tubuhnya, agar oksigen itu berhasil beliau hirup dengan bebas. Sepasang mata yang nyaris buta tak membuatnya menyerah untuk menulis, berkreasi, berjalan-jalan, memasak makanan yang enak-enak buat anak-cucunya,  dan selalu bersemangat bahwa hidupnya akan jauh lebih baik dari hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepasang mata yang nyaris buta tidak membuat beliau merasa ini adalah akhir dari segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir seluruh organ tubuh yang mulai berfungsi tidak baik sebagaimana mestinya tidak membuat beliau harus meratapi nasib yang seolah tidak berpihak pada lelaki yang usianya sudah 59 tahun, sementara lelaki dengan usia yang sama mungkin malah asyik di <em>fitness centre</em> atau asyik mengemudi mobil untuk mengantarkan cucu-cucu mereka!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>My dad is not a quiter. </em>Bukan orang yang gampang menyerah. Bukan orang yang mudah berputus asa.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau adalah orang yang menganggap <em>tomorrow will be better, </em>asal kamu percaya. Asal kamu mengusahakannya. Asal kamu menginginkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ajaran itu, pemahaman seperti itu, telah tertanam di dalam otak saya. Karena ketika masih kecil dulu, Papi tidak hanya menyanyikan lagu Balonku Ada Lima atau Lihat Kebunku, melainkan beliau selalu menyenandungkan &#8220;ajaran&#8221; ini setiap saat setiap waktu, sebagai harapan, kelak, saya akan setangguh dirinya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika hati saya sedang ogah tersenyum, dunia seolah tidak berpihak, dan seluruh kekuatan saya seolah melorot ke kedua jempol kaki, saya mencoba untuk mengingat kembali kata-kata Papi. Saya mencoba untuk membayangkan sosok Papi. Menggali kekuatan dengan mengingat bahwa saya adalah anak perempuan dari Edi Purwono yang tidak pernah menyerah, <em>no matter how hopeless life is.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>I am not raised by my father to be a quiter.</em> Untuk lari dari masalah. Untuk menyerah. <em>In fact, </em><em>I am raised to be a tough girl</em>, perempuan yang sangat kuat untuk menghadapi apapun dengan seluruh kekuatan yang dia miliki&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa yang akan menyangga tubuh saya sendiri kalau bukan saya?<br />
Dan Tuhan telah memberikan jumlah kekuatan sesuai kapasitas masing-masing orang sehingga tidak ada yang <em>over load</em>.<br />
Jadi saya tidak boleh menyerah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Not because that I was raised to be that kind of girl,<br />
</em>Tapi juga karena saya tahu, <em>problems are designed to make me more clever. </em>Menjadi semakin kreatif! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Jadi?</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan dunia, jungkir balikkan saya. Tegakkan saya lagi. Sungkurkanlah sekali lagi, lalu angkat lagi semaumu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>I am not a quiter.<br />
Because my Dad&#8230; he didn&#8217;t raise me that way.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="font-style: normal;">***</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="font-style: normal;">Kamar, Minggu, 27 September 2009, 2.30 sore<br />
Semangat, ya, La! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/09/he-didnt-raise-me-that-way/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Questions</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/09/the-questions/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/09/the-questions/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 15:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[It's About Me]]></category>

		<category><![CDATA[Penting Ga Penting...]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[Family]]></category>

		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Lajang]]></category>

		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>

		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<category><![CDATA[single]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3340</guid>
		<description><![CDATA[I hate being single in this time around... er, yang saya maksud &#8216;around&#8216; adalah ketika sedang berkunjung ke rumah saudara-saudara saat lebaran kemarin. Yeah, yeah. Typical, same old questions. 
&#8220;Kapan, nih?&#8221;
Kapan apanya? Ulang tahun? Oh, masih lama, lima bulan lagi.
Kapan apa? Masuk kantor? Oh, nanti, tanggal 24 September, hari Kamis.
Kapan apaaaa? Lebaran? Lho, kan hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>I hate being single in this time around.</em>.. er, yang saya maksud &#8216;<em>around</em>&#8216; adalah ketika sedang berkunjung ke rumah saudara-saudara saat lebaran kemarin. Yeah, yeah. <em>Typical, same old questions. </em></p>
<p>&#8220;Kapan, nih?&#8221;</p>
<p>Kapan apanya? Ulang tahun? Oh, masih lama, lima bulan lagi.<br />
Kapan apa? Masuk kantor? Oh, nanti, tanggal 24 September, hari Kamis.<br />
Kapan apaaaa? Lebaran? Lho, kan hari ini!<span id="more-3340"></span></p>
<p>&#8220;Kapan kawinnya?&#8221;</p>
<p>Oh, kawin.<br />
Ngomong dong. Kawin apa nikah? <em>More specific, please</em>! Nanti saya takut ngasih jawaban yang kurang tepat! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8220;Sudah umur berapa, La?&#8221;</p>
<p>Masih muda. Belum lima puluh lima. Masih punya banyak waktu, insyaAllah, sebelum menopause. Yang penting saya cakep dan menggemaskan di umur akhir dua puluhan ini. Kenapa memangnya? Saya keliatan lebih muda? Apaaa??? Kayak masih baru lulus SMA, ya?</p>
<p>&#8220;Mau dicariin calon suami, nggak?&#8221;</p>
<p>Aduh! Cariin aja sebuah penerbit yang nekat ngebukuin tulisan saya. Cariin aja editor sinting yang mau <em>work their asses to help me creating a masterpiece</em>. Cariin aja kesempatan buat bikin saya girang karena berhasil bikin buku lagi. Karena kalo calon suami, saya bisa nyari sendiri.<em> I can cover it all by myself. Thank you, but I think I&#8217;ll pass on that, Doll!</em></p>
<p>&#8220;Jangan kebanyakan milih, dong.. Nggak baik kalo terlalu selektif&#8230;&#8221;</p>
<p><em>Well, hellloooww</em>. Siapa yang terlalu <em>picky</em>, selektif, kebanyakan milih, <em>or whatever the name is</em>. Kalo ini soal masa depan saya, <em>I deserve and have all the right to be selective</em>, kan? Itu bukan <em>picky</em>, itu adalah mencari <em>the right person</em> untuk jadi calon suami dan calon bapaknya anak-anak saya. Siapa yang mau punya suami tukang mabok? Siapa yang mau punya Bapak tanpa pekerjaan? <em>It&#8217;s not being picky</em>, Sodaraku tercinta. Saya cuman ingin yang terbaik.</p>
<p>&#8220;Pokoknya jangan lupa undang-undang, lho&#8230;&#8221;</p>
<p><em>Don&#8217;t worry, All. It&#8217;ll be in the infotainmen</em>t. Karena, ternyata, oh ternyata, berita soal pernikahan saya adalah berita yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang! <em>Oh, my! I am that famous!</em> <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>How annoying!</em></p>
<p>Itulah kenapa saya benci banget jadi perempuan lajang ketika kumpul-kumpul dengan saudara-saudara yang sudah sekian lama nggak ketemu, khususnya sih sodara jauh yang baru ketemu kalau ada <em>special occassion</em> seperti nikahan, naik haji, atau.. um, lebaran kayak kemarin<em>. I know</em>, memang sangat terkesan klise dan sudah sangat tipikal. Saya sudah menjadi lajang (yang <em>apparently</em>, sudah masuk musim kawin) sejak 5 tahun yang lalu. Seharusnya saya sudah <em>well-prepared</em> atau tahu gimana caranya menangkis pertanyaan-pertanyaan itu.</p>
<p>Singkatnya begini : Lala, seharusnya kamu sudah tahu gimana caranya membuat senyum palsu dan jawaban-jawaban yang bisa membungkam mulut-mulut &#8216;perhatian&#8217; sodara-sodara kamu!</p>
<p>Tapi yang ada, saya cuman cengengesan.<br />
Tapi yang ada, saya masih merasa kalau pertanyaan-pertanyaan itu adalah <em>soooooo very ANNOYING</em>! Nyebelin!</p>
<p>Kenapa sih musti ada pertanyaan seperti itu? Kenapa sih, budaya yang kita miliki ini membuat saya, perempuan lajang usia akhir dua puluhan, seolah menjadi sosok kriminal karena belum kawin-kawin juga? Dan kenapa musti ada aturan kalau <em>working single women at thirty</em> berarti ada yang salah dengan perempuan itu?</p>
<p>Terlalu sibuk bekerja?<br />
Terlalu sibuk dengan diri sendiri?<br />
Terlalu pemilih?<br />
Terlalu ini itu, anu inu?</p>
<p><em>Being married is a choice.<br />
And so is being single.</em><br />
Seharusnya bukan masalah kan?</p>
<p>Tapi, ya, ya, ya. Mau ngomel ke Bude-Pakde karena ditanya-tanyain pertanyaan yang nyebelin seperti itu juga bakal percuma. Saya nggak mau bikin Bude-Pakde sakit jantung karena mendadak saya ngebanting gelas dan nyeracau, mengemukakan pendapat-pendapat saya, kan? Jadi, ngomel dan memberikan argumentasi alias &#8216;ngeles&#8217; juga bukan pilihan bijak.</p>
<p><em>Then, what was left?</em></p>
<p>Saya cuman bisa berjuang untuk tersenyum.<br />
Pura-pura budeg.<br />
Dan satu lagi, <em>being a clown.</em></p>
<p>Yep, <em>being a clown</em> aja. <em>Being stupid and dull</em> saat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.</p>
<p>Sodara (S) : &#8220;Kapan, nih?&#8221;<br />
Lala (L) : &#8220;Kapan apanya?&#8221;<br />
S : &#8220;Kapan nikah?&#8221;<br />
L : &#8220;Oh, taun depan, kalo semuanya lancar.&#8221;<br />
S : &#8220;Oh ya? Jangan lupa ngasih tau, lho, ya..&#8221;<br />
L : &#8220;Hehe, tenang ajaaa&#8230; Ntar ada di Insert sama Cek dan Ricek, kok. Pasti nggak bakal ada yang kelewat&#8230;&#8221;<br />
S : &#8220;Haha, pokoknya jangan lupa undangannya, ya?&#8221;<br />
L : &#8220;Ya, ya. Pasti!&#8221;</p>
<p>Dan saya ngeloyor pergi setelah bersalaman dan <em>said goodbye</em>.<br />
Tentunya sambil ngebayangin, <em>what if </em>kalau lebaran tahun depan saya masih <em>single</em> dan nggak ada cincin tunangan di jari manis saya.</p>
<p>Saya bakal bilang apa kalau ada Sodara yang nanya: &#8220;Kok nggak jadi kawin? Memangnya ada masalah, ya? Calon suami-mu orang mana sih? Apa nggak jadi tunangan? Apa&#8230;.&#8221;</p>
<p>Yeah!<br />
<em>The questions.</em><br />
<em>I guess,</em> saya musti segera belajar ilmu hipnotis supaya di lebaran taun depan, sodara-sodara nggak bakal reseh seperti taun ini karena saya hipnotis ala Rommy Rafael aja&#8230;. ^_^</p>
<p style="text-align: center;">
***<br />
Kamar, Selasa, 22 September 2009<br />
Tulisan iseng nggak penting! <img src='http://jeunglala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/09/the-questions/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Clever Decision, eh?</title>
		<link>http://jeunglala.com/2009/09/clever-decision/</link>
		<comments>http://jeunglala.com/2009/09/clever-decision/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 03:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Just a Thinking]]></category>

		<category><![CDATA[Thoughts to Share]]></category>

		<category><![CDATA[Gilmore Girls]]></category>

		<category><![CDATA[Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<category><![CDATA[Single Parents]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jeunglala.com/?p=3330</guid>
		<description><![CDATA[Gadis itu masih berusia enam belas tahun ketika perutnya mengalami konstraksi hebat yang membuatnya berteriak-teriak kesakitan. Usianya masih di awal enam belas, dengan tubuh ringkih seorang remaja, ketika sekujur tubuhnya berpeluh menahan denyutan-denyutan tak bersahabat yang membuatnya hampir putus asa dan membuatnya berpikir ulang, &#8220;Have I made a clever decision?&#8221;
Ya. Gadis itu masih berusia enam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Gadis itu masih berusia enam belas tahun ketika perutnya mengalami konstraksi hebat yang membuatnya berteriak-teriak kesakitan. Usianya masih di awal enam belas, dengan tubuh ringkih seorang remaja, ketika sekujur tubuhnya berpeluh menahan denyutan-denyutan tak bersahabat yang membuatnya hampir putus asa dan membuatnya berpikir ulang, &#8220;<em>Have I made a clever decision</em>?&#8221;<span id="more-3330"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ya. Gadis itu masih berusia enam belas tahun ketika ia harus mengejan sekuat tenaga untuk mendorong bayi kecil perempuan itu dari dalam perutnya, <em>safe and sound</em>. Dengan segala kekuatan yang mendadak tumbuh sedemikian hebatnya ketika ia mendengar seorang perawat mengatakan, &#8220;<em>Come on&#8230; </em>Sedikit lagi&#8230; <em>Push.. push&#8230;</em> <em>We can see the head&#8217;s coming</em>!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia memang masih berusia enam belas tahun; sangat labil, sangat emosional, sangat&#8230; um, muda.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan itu terus menggayut di dalam isi kepala gadis usia enam belas tahun itu sampai ia sesak nafas karenanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Have I chose the right path? Have I took the right turn? Have I made the right decision</em>?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai akhirnya, seorang bayi perempuan, berbobot normal, berambut gelap, bermata seperti biji berlian, menangis di pelukannya&#8230;menangis dalam timangannya&#8230; lalu memandangnya dengan kedua mata yang jernih ketika usai menyusu air susunya&#8230; Yeah. <em>By t</em><em>hat time she knew, she did the right thing, she made a clever decision&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>***</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Her name is </em>Lorelai Gilmore, seorang perempuan yang enam belas tahun kemudian menjelma menjadi seorang perempuan sukses, dengan karir yang hebat, dan berhasil membesarkan puterinya, Rory Gilmore, menjadi <em>a straight A&#8217;s student</em> di sekolah terbaik dan menjadi calon mahasiswi idaman universitas Harvard.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa yang menyangka bahwa keputusannya enam belas tahun itu adalah keputusan yang tepat? Membiarkan janin itu tumbuh di dalam perutnya lalu melahirkannya sembilan bulan kemudian dan membesarkannya tanpa suami. Ia memang memutuskan untuk tidak menerima pinangan pacarnya yang sama-sama masih remaja, masih awal enam belas tahun, yang dia pikir bukanlah seorang suami yang bisa membuat hidupnya jauh lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>She really thinks that raising a kid with herself was a clever decision. </em>Entah apa yang terjadi kalau pada saat itu, ia memutuskan untuk <em>gave up the child </em>atau malah menikah di usia muda&#8230; Mungkin, ia malah tidak akan menjadi seorang perempuan berdedikasi tinggi seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>But anyhow..</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/09/gilmore-girls.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-3333" title="gilmore-girls" src="http://jeunglala.com/wp-content/uploads/2009/09/gilmore-girls-300x225.jpg" alt="gilmore-girls" width="300" height="225" /></a>It was only a movie, </em>potongan adegan dari film seri yang saya tonton satu pekan kemarin, yang membuat saya rela begadang sampai pukul tiga pagi, karena saya tak bisa berhenti menonton kepingan episod-nya. <em>It was Gilmore Girls, </em>film seri Hollywood yang membuat saya berpikir cukup hebat dan otak saya terokupasi dengan pertanyaan-pertanyaan (tidak penting?).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yeah, maybe it was only a movie, </em>tapi bukankah terkadang, sebuah film terinspirasi dari kejadian-kejadian nyata dengan tambahan sedikit bumbu-bumbu penyedap?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kemudian saya ingat dengan sebuah peristiwa yang dialami seorang perempuan, yang kebetulan adalah kakak kelas saya sewaktu SMA. <em>I heard this story (or rumor?</em>) ketika saya sedang duduk di sebuah angkot dan beberapa teman saling berbagi cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakak kelas saya itu dikenal sebagai seorang perempuan yang cantik, yang pintar, dan sangat sopan. <em>She was like an angel with highschool uniform</em>. Beberapa saat kemudian, saya mendengar kabar tidak sedap mengenai dia harus <em>dropped out</em> dari sekolah karena sedang mengandung seorang bayi!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>I was pretty shocked. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan bahwa dia <em>dropped out</em> adalah satu fakta yang membikin saya terheran-heran. Ini ditambah pula dengan alasan dia sedang hamil muda. <em>My oh my&#8230; </em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dia kan diperkosa sama pacarnya sendiri, La&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya. Saya makin tak bisa memercayai pendengaran saya sendiri ketika kalimat-kalimat selanjutnya itu membuat bising telinga saya. Bagaimana saya bisa memercayai telinga saya kalau ada seorang lelaki yang tega memperkosa pacarnya sendiri setelah dibuat tidak sadar, dan membiarkan pacarnya juga ditiduri oleh abangnya?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dia memilih untuk nggak kawin sama pacarnya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, sekalipun terguncang luar biasa, perempuan cantik itu memilih untuk tidak menikahi pacar biadapnya itu karena menurutnya, lelaki bajingan seperti pacarnya itu tidak akan pernah menjadi bapak yang baik untuk anak yang sedang dikandungnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>That time I asked myself, &#8220;Did she make a clever decision</em>?<em>&#8220;</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Then, </em>seperti biasa, saya pun membagi pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu di halaman <em>Facebook </em>saya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<blockquote>
<h3 class="UIIntentionalStory_Message"><span class="UIStory_Message">Ada seseorang yang rela membesarkan anaknya sendirian daripada memiliki suami yang tidak bermasa depan. It was a clever decision or another way around?</span></h3>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ada yang berkata, &#8220;Kenapa juga dia mau bikin anak dengan seseorang yang tidak bermasa depan? <em>It wasn&#8217;t a clever move</em>!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa yang bilang, &#8220;Jelas <em>clever. </em>Daripada udah nanggung anak, nanggung bapaknya pulak!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ada yang bertanya kembali pada saya, &#8220;<em>Define clever. </em>Apa definisi dari <em>clever</em>? Karena ini tergantung dari situasi dan kondisinya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun akhirnya bertanya, persis seperti yang ditanyakan teman saya. &#8220;Apa sih definisi <em>clever</em>?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan: &#8220;Apa yang disebut dengan <em>tidak bermasa depan</em>?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Karena ukuran </span>tidak bermasa depan&#8230;<br />
<span style="font-style: normal;">Untuk saya, untuk kamu, untuk orang lain, jelas tidak sama ukurannya.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-style: normal;">Dan masalah </span>clever </em>atau tidak, bukankah semua itu tergantung dari sisi sebelah mana sepasang mata memandang?</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, seperti biasa, ketika pertanyaan tidak penting itu mengapung di dalam isi kepala, saya akhirnya cuman bisa menjawab dengan:</p>
<p style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal"><span>&#8220;<em>Oh boy, hopefully it won&#8217;t happen to me&#8230;<br />
</em></span><span>Dan kalau pun itu terjadi, semoga saja aku punya cukup nyali untuk mengambil keputusan, apapun itu&#8230; serta punya modal keikhlasan untuk menjalani semua resiko yang akan aku hadapi&#8230;&#8221;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amin!</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><span>Ya.</span><span> </span><em><span>People may say anything they want to say. I cannot please anyone, anywhere. They have all the rights to say this and that, accuse me for doing this and that&#8230;</span></em><em><span> </span></em><span>Tapi yang paling tahu soal</span><span> </span><em><span>clever</span></em><em><span> </span></em><span>atau tidak adalah orang itu sendiri, orang yang telah mengambil keputusan, dan menjalani sendiri semua resiko yang ada di depan matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>We&#8230; as the outsiders&#8230;</span></em><em><span> </span></em><span>tidak punya kapasitas apapun selain menghargai semua keputusan yang diambil.</span><span> </span><em><span>No matter how dull it is&#8230; or maybe even clever&#8230;</span></em><span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; "><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; "><span>Kantor, 14 Sept&#8217;09, 10.34 Pagi<br />
Special dedicated to every single mom in the whole universe </span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jeunglala.com/2009/09/clever-decision/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
